Di Balik Raksasa Jalanan, Ada Misi Menyelamatkan Nyawa
Program edukasi blind spot Elnusa Petrofin telah menjangkau sedikitnya 34 sekolah yang berada di sekitar area operasional perusahaan di berbagai daerah. (*)
POSKOTAKALTIMNEWS : Pagi itu halaman Integrated Terminal Teluk
Kabung, Padang, tampak lebih ramai dari biasanya. Puluhan siswa SMA berdiri
mengelilingi sebuah mobil tangki berukuran raksasa. Sebagian bercanda dengan
teman-temannya, sebagian lagi memandangi kendaraan tersebut dengan rasa
penasaran.
Mereka mengira
kegiatan itu hanyalah sosialisasi biasa. Namun beberapa menit kemudian,
pandangan mereka berubah.
Satu per satu siswa
diminta berdiri di sekitar kendaraan. Setelah itu mereka bergantian naik ke
kabin dan duduk di kursi pengemudi. Dari balik kemudi, mereka mencoba mencari
teman-teman yang berdiri hanya beberapa meter dari mobil tangki.
Beberapa orang yang
sebelumnya terlihat jelas dari luar ternyata sama sekali tidak tampak dari
posisi pengemudi. Ada ruang-ruang kosong yang tidak bisa dijangkau pandangan,
bahkan dengan bantuan kaca spion. Area itulah yang dikenal sebagai blind
spot atau titik buta kendaraan.
Bagi sebagian orang,
istilah blind spot mungkin terdengar teknis. Namun di jalan raya, titik
buta menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang paling sering luput dari
perhatian. Banyak kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar bukan terjadi
karena kelalaian yang disengaja, melainkan karena pengguna jalan tidak
menyadari bahwa dirinya berada di area yang tidak terlihat oleh pengemudi.
Kesadaran inilah yang
ingin dibangun oleh PT Elnusa Petrofin (EPN) melalui program Safety
Awareness yang digelar secara berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia.
Sebagai perusahaan
yang mengoperasikan armada distribusi energi di berbagai daerah, Elnusa
Petrofin memahami bahwa keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab internal
perusahaan. Keselamatan juga menyangkut masyarakat yang setiap hari berbagi
ruang dengan kendaraan-kendaraan besar di jalan raya.
Setiap hari, ratusan
mobil tangki BBM milik dan mitra perusahaan melintasi jalan-jalan Indonesia,
mulai dari ruas tol di Pulau Jawa hingga jalur distribusi yang menantang di
Kalimantan dan Sumatera. Armada tersebut membawa energi yang dibutuhkan
masyarakat, sekaligus tanggung jawab besar untuk memastikan perjalanan
berlangsung aman.
Di tengah aktivitas
distribusi tersebut, Elnusa Petrofin mengambil langkah yang terbilang tidak
biasa. Alih-alih hanya berfokus pada keselamatan internal, perusahaan justru
aktif mengedukasi masyarakat mengenai risiko yang ditimbulkan oleh kendaraan
besar, termasuk blind spot.
Beberapa waktu lalu,
program Safety Awareness digelar di SMAN 11 Padang. Puluhan siswa dan guru
mengikuti simulasi langsung yang memperlihatkan bagaimana titik buta bekerja
pada kendaraan tangki.
Kegiatan serupa juga
dilaksanakan serentak di 47 unit operasi perusahaan di seluruh Indonesia. Total
sebanyak 1.253 peserta dari berbagai kalangan berhasil mendapatkan edukasi,
mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga masyarakat umum. Program tersebut
turut melibatkan kepolisian setempat sebagai mitra edukasi keselamatan.
Manager Corporate
Communication & Relations PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo,
menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Bulan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang dikemas melalui program tanggung
jawab sosial perusahaan.
"Kami berharap
dengan adanya sosialisasi ini, para pelajar lebih waspada dan memahami
pentingnya memperhatikan blind spot di jalan raya. Ini adalah langkah kecil
namun sangat berarti dalam menciptakan budaya berkendara yang lebih aman,"
ujarnya.
Di Makassar, program
serupa digelar di SMAN 4 Cakalang bekerja sama dengan Satlantas Polres
Pelabuhan Makassar. Sebanyak 105 peserta yang terdiri dari siswa dan masyarakat
sekitar wilayah operasional perusahaan mengikuti kegiatan yang dikemas secara
interaktif melalui kuis, diskusi, dan simulasi langsung.
Menariknya, hingga
kini program edukasi blind spot Elnusa Petrofin telah menjangkau sedikitnya 34
sekolah yang berada di sekitar area operasional perusahaan di berbagai daerah.
Menurut data yang
disampaikan Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Pelabuhan Makassar, AKP Nurshanty,
sebagian besar kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar tergolong sebagai
kecelakaan pasif. Korban sering kali tidak menyadari bahwa posisi mereka berada
di area yang tidak dapat dilihat oleh pengemudi.
Kelompok yang paling
rentan adalah remaja dan pengendara sepeda motor. Karena itulah pelajar SMA
menjadi salah satu sasaran utama program edukasi ini. Mereka merupakan generasi
yang mulai aktif berkendara namun belum tentu memahami seluruh risiko yang ada
di jalan raya.
Keunikan program
Safety Awareness Elnusa Petrofin terletak pada metode yang digunakan. Tidak
sekadar membagikan brosur atau memasang poster keselamatan, perusahaan memilih
menghadirkan pengalaman langsung.
Peserta diajak masuk
ke kabin pengemudi dan melihat sendiri bagaimana keterbatasan pandangan dari
kendaraan besar. Pengalaman tersebut memberikan kesan yang jauh lebih kuat
dibandingkan sekadar membaca informasi.
Ketika seorang
pelajar pernah merasakan sendiri bagaimana besar dan luasnya blind spot sebuah
mobil tangki, kesadaran itu akan terbawa saat ia berada di jalan raya. Mereka
akan lebih berhati-hati ketika menyalip, berhenti, atau berkendara di sekitar
kendaraan besar.
Di sisi lain, program
ini juga mencerminkan pendekatan tanggung jawab sosial yang lebih luas. Secara
regulasi, perusahaan tidak diwajibkan mengedukasi masyarakat tentang risiko
armada yang beroperasi di jalan umum. Namun Elnusa Petrofin memilih melangkah
lebih jauh.
Perusahaan
mengerahkan tenaga HSSE (Health, Safety, Security & Environment), waktu,
serta dukungan logistik untuk menjangkau puluhan sekolah dan komunitas di
berbagai daerah.
Langkah tersebut
menunjukkan bahwa keselamatan lalu lintas bukan sekadar urusan operasional
perusahaan, melainkan investasi sosial yang berdampak langsung pada masyarakat.
Komitmen itu juga
terlihat di wilayah Dumai, Provinsi Riau. Di sana, program Safety Awareness
dikembangkan menjadi edukasi keselamatan yang lebih komprehensif.
Tidak hanya membahas
blind spot, peserta juga mendapatkan pelatihan penggunaan Alat Pemadam Api
Ringan (APAR), teknik pertolongan pertama, hingga edukasi safety riding.
Salah satu kegiatan
yang mendapat antusiasme tinggi berlangsung di SMK Negeri 3 Dumai dengan
melibatkan sekitar 250 siswa.
Melalui berbagai
program tersebut, Elnusa Petrofin menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya
tentang mematuhi aturan, tetapi membangun kesadaran kolektif.
Pada akhirnya,
program Safety Awareness mengangkat pertanyaan penting bagi dunia industri:
sejauh mana perusahaan bertanggung jawab terhadap dampak kehadiran armadanya di
ruang publik?
Elnusa Petrofin tampaknya telah memilih jawabannya.
Tidak sekadar
memenuhi kewajiban, tetapi turut menjadi penyambung lidah keselamatan bagi
masyarakat. Sebab di jalan raya, satu pengetahuan sederhana tentang blind spot
bisa menjadi pembeda antara selamat sampai tujuan atau menjadi bagian dari
statistik kecelakaan yang sebenarnya dapat dicegah. (Hamid)